Jurnal Refleksi Dwimingguan Calon Guru Penggerak Angkatan X
Modul 1.1.
Siti Juhairiah, S.Ag, CGP Angkatan X
Jurnal Refleksi dwi mingguan ini dibuat untuk melengkapi salah satu tugas calon guru penggerak. Sebagai calon guru penggerak saya akan merefleksikan seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 1.1. yaitu tentang Filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan.
Dalam mengerjakan tugas ini saya
menggunakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway , melalui
pertanyaan sebagai berikut :
Facts (Peristiwa) : Ceritakan
pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat aksi
nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut?
Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada
minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?
Feelings (Perasaan): Bagaimana
perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika
menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki
perasaan tersebut`
Findings (Pembelajaran) : Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini ? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?
Future (Penerapan) : Apa yang
bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa
depan ? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa
ini?
Di bawah ini adalah hasil refleksi yang telah saya lakukan :
Facts (Peristiwa)
Pengalaman saya mengikuti pembelajaran CGP selama 2 minggu ini adalah saya lebih memahami arti dari dari sebuah Pendidikan sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara di mana menurut beliau pendidikan merupakan proses persemaian benih-benih kebudayaan. Dalam proses persemaian tersebut, diperlukan sistem pengajaran yang bersifat menuntun siswa dan berorientasi pada siswa, pembelajaran kontekstual sesuai dengan budaya lokal sampai pembelajaran berdasarkan role model/suri teladan sesuai dengan semboyan Pendidikan di Indonesia “Ing Ngarso Sung Tulado, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. Hal baik yang saya alami adalah saya bisa mengenal berbagai guru Hebat dari berbagai jenjang, bisa saling berbagi, saling memotivasi, saling diskusi dalam materi yang belum dipahami, dengan fasilitator dan pengajar praktik yang luar biasa. Pemikiran KHD dalam Pendidikan ini memotivasi untuk selalu berproses dalam pembelajaran yang lebih baik lagi. Tantangan dalam pembelajaran minggu ini adalah managemen waktu dalam proses pembelajaran dan mengerjakan tugas-tugas, dan paling sulit adalah membuat tugas-tugas dalam bentuk /karya yang membutuhkan teknologi digital terutama tugas dalam bentuk video dan google sites. Solusi saya dalam menghadapi tantangan tersebut adalah saya harus dapat membuat time management (membagi waktu) dengan baik, harus dapat memprioritaskan jadwal/agenda baik di sekolah, di rumah, atapun dalam pembelajaran CGP ini. Adapun solusi yang lainnya adalah untuk dapat membuat video dan google sites, saya berdiskusi dengan CGP tingkat Nasional dengan guru-guru hebat lainnya dan mencari sumber-sumber yang relevan baik dari youtube, tik-tok dan lainnya secara mandiri dan berkolaborasi juga dengan teman sejawat.
Feelings (Perasaan)
Banyak hal yang saya rasakan selama menjalani Pendidikan Guru Penggerak Angkatan X ini. Banyak yang saya rasakan diantaranya saya merasa senang karena dengan mengikuti pelatihan guru penggerak banyak pengalaman yang saya dapatkan, mendapatkan teman baru, sebaliknya di sisi lain ada perasaan kuatir dikarenakan dalam mengikuti pelatihan guru penggerak ini waktunya sangat padat dan lama, takut jika tidak bisa melakukan semua tanggung jawab yang diberikan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan terutama terkait dengan pembagian waktu di sekolah yang begitu padat. Selain itu tugas utama saya sebagai pendidik kuatir dan takut tidak bisa membagi dan masih banyak lagi kekhawatiran yang kadang membuat saya cepat putus asa dan tidak semangat.tapi karena ada dukungan dari rekan-rekan kelompok di CGP yang lain kekhawatiran itu bisa teratasi dengan baik, meskipun terkadang panik ada tugas yang di lms belum saya selesaikan.
Saya berdoa kepada Allah SWT semoga saya diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan tugas sebagai guru maupun menyelesaikan semua tugas guru penggerak yang diberikan dan berusaha untuk tetap menjaga kesehatan,. Rasa panik terkadang menghantui pikiran saya jika tugas belum selesai dikerjakan sedangkan batas waktu mengunggah tugas harus sesuai duedate yang sudah ditentukan . Rasa kuatir takut meninggalkan tugas guru karena harus fokus dengan tugas-tugas CGP pun sering membuat saya merasa gelisah, tapi mengingat tugas guru untuk bisa mendidik dengan kemajuan zaman saya berusaha untuk menyelesaikan tugas tugas yang diberikan di CPG ini dengan baik.
Selain rasa kekhawatiran yang saya alami , namun disisi lain
saya merasakan bahagia dan senang karena bisa mengikuti pendidikan guru
penggerak ini sebab untuk bisa lolos seleksi tahap 1 dan 2 itu tidak mudah.
Dalam perjalanan mengikuti pelatihan guru penggerak ini saya mulai menerapkan
filosofis Ki Hajar dewantara dalam pembelajaran di kelas. Pembelajaran yang
berorientasi pada anak ternyata rasa kasih sayang saya terhadap murid semakin
bertambah. Saya tidak lagi memandang murid yang sering bercanda , mengganggu
teman-temannya, dan bermain-main di kelas sebagai anak yang nakal dan harus
ditegur , karena saya menyadari bahwa kodrat anak adalah bermain. Maka muncul
ide saya untuk mengemas pembelajaran yang kaku menjadi sebuah
pembelajaran yang menarik agar murid bisa mengikuti proses pembelajaran dengan
menyenangkan. Keinginan saya sebagai guru untuk menuntun kodrat alam dan kodrat
jaman yang melekat pada murid semakin besar. Saya ingin melakukannya dengan
penuh kesabaran sehingga mereka bisa mewujudkan kebahagiaan dan
keselamatan yang setinggi-tingginya .
Findings (Pembelajaran)
Dari pembelajaran ini saya menemukan hal-hal baru, yang sebelumnya
kurang saya pahami sebelumnya yaitu tentang filosofis Ki Hajar Dewantara. Saya
mendapat ilmu-ilmu baru yang sangat saya perlukan untuk meningkatkan kompetensi
saya sebagai seorang pendidik. Melalui 6 Dasar pemikiran ki hajar Dewantara
saya merasa mendapat bekal yang tidak ternilai harganya.
Sebagai seorang pendidik saya harus menuntun segala kekuatan kodrat yang
ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat dengan
mengacu pada trilogi pendidikan yaitu ing ngarso sing tulodo, ing madya mangun
karso dan tut wuri handayani.
Saya menyadari bahwa anak memiliki kodrat merdeka, oleh karena itu saya
harus memberikan kemerdekaan kepada anak-anak untuk menyelesaikan
tugas-tugasnya sesuai dengan minat, bakat , dan kreatifitasnya agar mereka
dapat mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya.
Sebagai pendidik saya harus senantiasa menghamba kepada anak atau dengan
kata lain berpihak pada mereka.menjadikan mereka subyek bukan obyek. Saya juga
harus memandang murid bukanlah kertas yang bisa digambar sesuai kemauan saya ,
karena mereka lahir dengan kodrat yang samar. Tugas kita adalah menebalkan
garis-garis samar itu agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia
seutuhnya. Menerapkan budi pekerti yang luhur merupakan keharusan yang tidak
terbantahkan dengan cara mengintegrasikan setiap proses pembelajaran dengan
pencapaian profil pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri
, bernalar kritis dan kreatif.
Sebagai seorang pendidik diibaratkan seorang petani yang menanam jagung
misalnya. Hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung tersebut, memperbaiki kondisi
tanah, memelihara tanaman jagung , memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat
dsb. Agar tanaman itu tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang
berkualitas tinggi.
Future (Penerapan)
Saya akan melakukan hal terbaik didalam proses pembelajaran saya
dikelas, agar tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik. Banyak hal yang akan
saya benahi yang selama ini tanpa saya sadari apa yang saya lakukan jauh dari
kata sempurna jika dikaitkan dengan filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara .
Pembelajaran
yang berpusat pada guru harus segera diganti dengan pembelajaran yang berpusat
pada murid, agar mereka mengalami pembelajaran bermakna dan terciptanya interaktif yang menyenangkan di dalam kelas. Memberi
kebebasan kepada anak-anak untuk menggali potensi yang dimilikinya harus
terjadi dalam proses pembelajaran agar mereka menemukan jati dirinya sehingga
menjadi manusia seutuhnya. Mengarahkan bukan lagi hal yang perlu dipertahankan
tetapi kita harus merubahnya dengan menuntun peserta didik agar kodrat alam
yang dimilikinya sejak lahir bisa berkembang kearah yang lebih baik dan kodrat
jaman dimana mereka hidup saat ini bisa mereka dapatkan sehingga akan
mempermudah murid dalam mengatasi persoalan hidupnya dimasa kini ataupun masa
mendatang sehingga murid menjadi manusia yang berkarakter baik sesuai dengan
kodrat alam dan kodrat jaman yang melekat pada murid.
Sekian refleksi dwimingguan saya tentang Filosofi Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dalam pelatihan Calon Guru
Penggerak.
Semoga bermanfaat.
Salam Guru Penggerak!

Komentar
Posting Komentar