Koneksi Antar Materi Modul 1.1 - Kesimpulan dan Refleksi CGP angkatan 10
Ketika mendengar nama Ki Hajar Dewantoro (KHD), pastinya pikiran
kita langsung tertuju pada istilah Ing
Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso dan Tut Wuri Handayani. Ing Ngarso Sung Tulodo artinya
di depan memberikan teladan; Ing
Madyo Mbangun Karso, artinya di tengah memberi semangat dan Tut Wuri Handayani artinya di
belakang memberi dorongan.
Ketika melihat ke belakang, saya tahu betul ungkapan KHD di atas
namun belum menjiwai dan mengamalkannya dalam peran saya selaku seorang guru.
Jika saya menelisik lebih dalam tentang Pemikiran KHD dalam modul 1.1 Program
Guru Penggerak (PGP), saya harus mengakui bahwa ada banyak anggapan yang saya
yakini sebelum mempelajari modul ini antara lain: Pertama, memandang anak-anak sebagai gelas dan
kertas kosong. Untuk diketahui bahwa saya adalah
seorang guru fisika. Fisika termasuk dalam pelajaran yang sulit bagi siswa.
Atas dasar ini, saya meyakini bahwa siswa pasti susah untuk memahami pelajaran
Fisika. Akibatnya saya sering memperlakukan siswa sebagai gelas kosong dan saya
perlu mengisinya dengan pengetahuan yang saya miliki dan menjadikan diri
sebagai satu-satunya sumber belajar. Bila gelas itu sudah penuh dengan
pengetahuan maka itu akan dianggap sebagai sebuah keberhasilan.
Dalam hal pembentukan karakter, saya sering memperlakukan
anak-anak layaknya kertas kosong. Hal-hal yang saya anggap baik, itulah yang
perlu saya coretkan pada anak-anak. Saya menganggap bahwa watak mereka akan
terbentuk melalui didikan saya.
Kedua, memandang semua anak itu
sama. Yang saya maksudkan adalah
semua anak punya harus diperlakukan sama dalam pembelajaran yang mana saya
harus menyeragamkan metode pembelajaran tanpa mempertimbangkan minat dan
potensi masing-masing anak. Di sisi lain dengan menyeragamkan metode pembelajaran
maka saya tidak perlu disibukkan dengan pengelolaan pembelajaran dalam kelas.
Ketiga, saya adalah penguasa
kelas. Saat melaksanakan pembelajaran,
saya menganggap bahwa siswa harus mengikuti aturan saya dalam pembelajaran.
Saya punya kewenangan sepenuh untuk mengatur kelas menurut apa yang saya anggap
baik. Jika ada yang melanggar aturan yang saya buat dalam pembelajaran maka
saya berhak memberi hukuman. Keempat,
fokus saya adalah mengajar. Yang saya maksudkan adalah
saya lebih berfokus menyelesaikan materi dan ketuntasan anak-anak pada KKM
serta pada aspek kognitif siswa semata. Nilai (grade) adalah prioritas saya.
Setelah mempelajari Pemikiran KHD dalam modul 1.1 PGP, pandangan
saya berubah 180 derajat. Anggapan saya tentang keempat hal di atas yang saya
yakini selama ini adalah sebuah kekeliruan besar. Anggapan pertama bahwa yang
memandang anak-anak
sebagai gelas dan kertas kosong bertolak belakang
dengan pemikiran KHD. Dengan pandangan tersebut maka secara tidak langsung
menganggap anak sebagai obyek dan saya selaku guru sebagai subyek. KHD
menyatakan bahwa hidup
tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik.
Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup
dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. Dengan demikian maka
saya selaku pendidik hanya bisa mengarahkan tumbuh kembangnya kodrat tersebut.
Selanjutnya saya memandang
semua anak itu sama. Anggapan ini tentu keliru dan tidak
sejalan dengan pemikiran KHD. Menurut KHD setiap anak itu istimewa adanya;
mereka punya keunikan dan karakteristik tersendiri sebagai individu. Saya
sebagai guru seharusnya memberi tuntunan pada anak-anak menurut minat dan
potensi masing-masing. Hal ini sejalan dengan analogi dari KHD bahwa seorang
petani tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai
jagung. Selain itu, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut
seperti hanya cara memelihara tanaman kedelai atau tanaman lainnya.
Anggapan keliru saya yang berikutnya adalah menjadikan diri saya adalah penguasa kelas.
Hal ini tentu kontras dengan pandangan KHD yang harus berhamba pada anak.
Berhamba pada anak berarti menaruh rasa hormat dan siap melayani kebutuhan anak
dalam pembelajaran. Tentunya sebagai individu, kebutuhan belajar siswa pastinya
berbeda; hamba yang baik akan selalu melayani kebutuhan tuannya sebagai pribadi
yang unik dan menghormati keunikan itu.
Implikasi dari berhamba pada anak adalah pembelajaran yang guru
lakukan haruslah berpusat pada siswa. Pembelajaran yang berpusat pada siswa
berarti bahwa pembelajaran harus menempatkan siswa sebagai pusat dari proses
belajar mengajar, sehingga akan mengembangkan minat, motivasi, dan kemampuan
individu menjadi lebih aktif, kreatif dan inovatif serta bertanggung jawab
terhadap proses belajarnya sendiri.
Anggapan keliru saya yang terakhir adalah fokus saya adalah mengajar.
Memang benar bahwa tugas guru adalah mengajar namun menurut KHD itu belum
lengkap. Tugas saya selain mengajar adalah mendidik. Mengajar hanya berfokus
pada hal-hal bersifat lahiriah atau fisik sedangkan mendidik berfokus pada
hal-hal yang bersifat batiniah atau mental. Selain itu mengajar hanya tertuju
pada pencapaian nilai/grade sedangkan
mendidik lebih diarahkan pada pengembangan nilai/value pada
anak.
Setelah memahami pemikiran KHD dan menyadari kekeliruan saya,
saya bertekad untuk mulai melakukan perubahan pada pembelajaran yang saya
lakukan. Saya akan memberi ruang dan kebebasan pada anak-anak didik saya untuk
menggali potensi mereka menurut kodratnya masing-masing. Selain itu,
pembelajaran yang selama ini menjadikan saya sebagai subyek akan saya benahi
menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Ya, saya tahu betul bahwa
membuat perubahan tidak seperti membalik telapak tangan namun tidak ada salahnya
mulai berubah dari sekarang.

Komentar
Posting Komentar